Wednesday, May 25, 2011

DUNIA DALAM FILSAFAT

Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini, dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari semua aspek dalam kehidupan. Jadi obyek kajian filsafat sangatlah luas. Filsafat merentang pada dimensi yang bertingkat dari bumi menuju langit, yaitu dari dimensi material, formal, normatif, dan yang terakhir adalah spititual. Dalam kajian filsafat, akan banyak muncul pertanyaan yang tidak semuanya membutuhkan atau perlu untuk dijawab. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kita sebagai manusia, kadang untuk menjawab pertanyaan pikiran kita bisa menggapainya tetapi spiritual kita akan terkikis. Ini adalah hal yang tidak boleh terjadi, sebab landasan paling dasar dari diri kita adalah spititual kita.

Tiga pilar utama dalam filsafat mempunyai sumbu-sumbu sebagai unsur pentingnya. Sumbu-sumbu dari ontologi (hakekat) adalah berfikir intensif dan ekstensif, sedangkan sumbu dari epistimologi adalah foundation dan antifoundation, benar dan salah. Sumbu dari aksiologi adalah estik dan estetika, baik dan buruk sampai pada transenden spiritual. Ada juga sumbu dalam ruang, yaitu jauh dekat, tinggi rendah, dll. Sedangkan sumbu dalam waktu adalah yang lalu, sekarang, dan yang akan datang. Belajar filsafat adalah antara fatal dan vital juga antara mitos dan logos yang berjalan beriringan.

Banyak orang yang bertanya apakah mitos itu sesuatu yang bermanfaat? Jawabannya adalah ya, tetapi dengan syarat mitos tersebut harus berjalan sesuai dengan dimensinya. Sebagai contohnya adalah pada anak kecil sebagian besar pengetahuannya adalah mitos, karena anak kecil belum bisa bertanya “mengapa”. Mitos juga penting dalam pendidikan anak, tetapi memang harus sesuai dengan dimensinya. Contoh lainnya adalah kebiasaan masyarakat seperti sedekah, dll. Semua itu ada unsur kehidupannya, karena bagi masyarakat tertentu pengetahuan cukup dimitoskan seperti halnya pengetahuan anak kecil, karena jika tidak maka akan menjadi tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Jika kita bertindak sebagai penentu atau subyek bagi orang lain maka semua itu harus berjalan harmoni atau selaras seperti gending jawa. Selaras berarti di dalam diriku ada dirimu, di dalam dirimu ada diriku. Ukuran orang yang satu dengan orang yang lain berbeda-beda sesuai dengan dimensinya. Sifat orang yang satu dengan yang lain pun berbeda-beda pula, sifat merupakan aspek psikologi dari manusia. Sedangkan kegagalan maupun kesuksesan adalah pengada. Filsafat dunia barat dan timur berbeda, yaitu filsafat barat bersifat mencari sedangkan filsafat timur bersifat memberi. Sebagai contoh: seseorang yang berumur lebih dari 40 tahun masih belajar/ kuliah. Jika dipandang dari filsafat barat maka orang tersebut dikatakan masih mencari ilmu pengetahuan, tetapi jika dipandang dari filsafat timur maka sudah seharusnya orang tersebut memberi ilmu pengetahuan bukan malah terus belajar.

Terdapat 4 dimensi komunikasi dalam pendidikan karakter di Indonesia, meliputi komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif dan komunikasi spiritual. Dalam pengembangan karakter pada pendidikan matematika juga berlaku empat komunikasi tersebut, keberhasilan pendidikan karakter ditentukan oleh sejauh mana guru dapat berkomunikasi melalui empat hal di atas dengan siswa.

· Komunikasi material matematika

Komunikasi material matematika didominasi oleh sifat horisontal arah vitalitasnya. Dilihat dari segi keterlibatannya, jumlah satuan potensi yang terlibat adalah bersifat minimal jika dibandingkan dengan komunikasi dari dimensi yang lainnya. Maka, sebagian orang dapat memperoleh kesadaran bahwa komunikasi material matematika adalah komunikasi dengan dimensi paling rendah.

· Komunikasi formal matematika

Komunikasi formal matematika didominasi oleh sifat-sifat korelasional ke luar atau ke dalam dari vitalitas potensinya. Korelasi ke luar atau ke dalam memunyai makna perbedaan antara sifat-sifat yang di luar dan sifat-sifat yang di dalam. Korelasi antara perbedaan sifat itulah yang menentukan sifat dari subjek atau objek komunikasinya. Implikasi dari perbedaan sifat-sifat subjek atau sifat-sifat objek memberikan penguatan adanya perbedaan sifat penunjukan.

· Komunikasi normatif matematika

Komunikasi normatif matematika ditandai dengan meluruhnya sifat-sifat penunjukan korelasionalitas penunjukannya pada diri subjek dan objeknya. Namun demikian, komunikasi dikatakan memunyai dimensi yang lebih tinggi dikarenakan keterlibatan satuan-satuan potensinya lebih banyak, lebih luas, dan lebih kompleks. Meluruhnya sifat penunjukan korelasional horisontal bukan disebabkan oleh lemahnya potensi dan vitalitas komunikasi, tetapi semata-mata dikarenakan luasnya jangkauan dan keterlibatan satuan-satuan potensi dan vitalitas baik pada diri subjek maupun objek.

· Komunikasi spiritual matematika

Sifat-sifat korelasional keluar dari konsep matematika menunjukkan keadaan semakin jelas dan tegasnya apakah dalam bentuk ke luar ke atas atau ke luar ke bawah. Korelasionalitas potensi dan vitalitas matematika ke atas akan mentransformasikan bentuk komunikasi ke dimensi yang lebih atas yaitu komunikasi spiritual matematika. Di pihak lain, korelasional potensi dan vitalitas ke bawah akan mentransformasikan bentuk komunikasi matematika ke dimensi yang lebih bawah, yaitu komunikasi formal matematika atau komunikasi material matematika.

Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari tentang segala aturan dan hukum-hukum. Anti filsafat adalah filsafat itu sendiri. Dalam filsafat dikenal istilah transformasi dunia. Dua hal yang dibutuhkan untuk mentransformasikan dunia adalah ruang dan waktu, karena kita tidak mungkin lepas dari ruang dan waktu. Secara subjektif, definisi filsafat yaitu diriku atau pikiranku. Pikiran adalah penghubung antara yang ada dan yang mungkin ada. Seperti Immanuel Kant, yang mengungkapkan bahwa dunia adalah pikiranku. Jika kau ingin mengetahui dunia maka tengoklah dalam pikiranmu. Pikiran merupakan separuh dunia, dan separuh dunia yang lain adalah pengalaman. Untuk menghubungkan kedua hal tersebut, kita membutuhkan abstraksi. Abstraksi adalah unsur dasar dari reduksi. Sifat dasar dari reduksi adalah tajam dan kejam.

Ada seorang filsuf yang ternyata tidak mampu mengetahui apapun, dia adalah Socrates. Karena Socrates adalah seorang filsuf yang mengungkapkan bahwa filsafat adalah pertanyaan. Seorang filsuf tidak akan pernah bisa lari dari filsafat karena filsuf adalah filsafat. Maka mempelajari filsafat berarti mempelajari pikiran para filsuf. Tujuan seseorang berfilsafat adalah membangun dunia. Ada 2 unsur untuk membangun dunia yaitu unsur aku ditambah aku atau bukan aku (hukum identitas dan hukum kontradiksi). Dalam mempelajari filsafat juga akan banyak muncul sifat-sifat tertentu, seperti arogansi filsafat, karena dalam berfilsafat kita tidak menyebutkan gelar yang dipunyai oleh para filsuf. Kelancangan filsafat, karena filsafat lancang terhadap subyek. Kesombongan dan juga kemarahan filsafat, karena kita selalu berfilsafat.

Sumber : http://powermathematics.blogspot.com/2011/04/artikel-populer-pendidikan-karakter.html

Wednesday, May 11, 2011

PENGARUH TIGA PILAR UTAMA FILSAFAT DALAM KEHIDUPAN

Dalam filsafat terdapat tiga pilar atau aspek yang utama, yaitu:

· Ontologi (hakekat)

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan/hakekat sesuatu yang bersifat konkret/ada. Jadi obyek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan mengenai hakikat kenyataan. Kita harus memahami dengan baik masalah-masalah ontologi agar dapat memahami dengan baik masalah dunia, tempat kita tinggal. Ontology berkaitan dengan pertanyaan “apa”.

· Epistimologi (metode)

Epistomologi adalah pengetahuan sistematis yang membahas tentang terjadinnya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (Ilmiah). Epistemologi membahas tentang bagaimana metode seorang manusia mendapatkan pengetahuan. Pentingnya pembahasan ini berkaitan dengan apakah suatu ilmu ia diperoleh dengan cara yang bisa didapatkan orang lain atau tidak. Jika tidak dapat diketahui orang lain maka pengetahuannya tidak dapat dipelajari oleh orang lain. Epistimologi berkaitan dengan pertanyaan “bagaimana/mengapa”.

· Aksiologi (untuk apa)

Aksiologi membahas tentang nilai etik dan estetika suatu pengetahuan. Nilai dari sesuatu tergantung ada tujuannya. Maka pembahasan tentang nilai pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari tujuannya. Masing-masing manusia memang mempunyai tujuan sendiri. Namun pasti ada kesamaan tujuan secara obyektif bagi semua manusia. Begitu juga dengan pengetahuan. Semua pengetahuan memiliki tujuan obyektif. Aksiologi berkaitan dengan pertanyaan “untuk apa”, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan?

Ketiga pilar tersebut bersifat saling berkaitan satu sama lain, dan juga berkaitan erat dengan perjalanan kehidupan kita. Di bawah ini akan dijelaskan hubungan antara ontology, epistimologi dan aksiologi.

1. Ontologi - ontologi

Hal ini berarti hakekatnya hakekat. Tetapi dalam kenyataannya manusia tidak bisa menjelaskan hakekat dari hakekat itu sendiri, karena kata-kataku tidak cukup menjelaskan hakekat. Hanya Allah SWT yang tahu hakekat atas hakekat, sebab hal tersebut merupakan rahasia yang hanya diketahui makna dan maksudnya oleh Allah SWT.

2. Ontologi - epistimologi

Adalah hakekat dari epistimologi, artinya hakekat dari metode/cara. Epistimologi itu sendiri adalah cara atau metode, sedangkan dari ontologi ke epistimologi itu maksudnya hakekat epistimologi atau hakekat dari cara dan metode. Dalam buku yang berjudul “Kebenaran Metode” hermenitika dogamen. Buku ini berusaha secara ontologi mengungkap hakekat metode. Sedangkan kebenaran metode itu benar dan salah dalam epistimologi.

3. Ontologi - aksiologi

Merupakan hakekat dari baik buruk. Dalam filsafat, segala sesuatunya merentang (berdimensi), antara satu orang dengan yang lain berbeda, dalam waktu yang berbeda segala sesuatu berbeda pula. Misalnya saja, keberadaan Osama bin Laden, baik buruknya tergantung dari mana orang memandang dan siapa pula yang memandangnya.

4. Epistimologi - ontologi

Yaitu metode untuk menggapai hakekat. Bagaimana cara kita menggapai hakekat, bagaimana pengetahuan kita mengungkap hakekat tentang sesuatu. Dalam filsafat metode untuk menggapai hakekat adalah olah pikir, sedangkan dalam spiritual adalah olah hati.

5. Epistimologi - epistimologi

Merupakan metode untuk menggapai metode. Dimana kita akan mampu untuk mengetahui benar salahnya segala metode yang kita lakukan. Sehingga kita akhirnya mampu dan dapat membenahi segala hal yang terkait dengan metode yang kurang sesuai. Kebenaran metode menghasilkan hermenitika modern.

6. Epistimologi - aksiologi

Metode untuk mengungkap baik buruk. Bagaiamana cara kita menemukan baik-buruk segala sesuatu yang timbul dalam kehidupan ini. Misalnya kita berfikir untuk meengungkap kembali mengenai tewasnya Osama. Osama bin Laden merupakan kritik terhadap orang yang berkuasa.

7. Aksiologi - ontologi

Adalah etik estetika dalam menggapai hakekat. Baik-buruknya hakekat, tata etik dan estetika berfikir tentang hakekat. Misal ketika kita berbicara tentang Tuhan jangan di tengah pasar, di kereta api, kurang sopan jika membicarakan Tuhan di pasar. Berbicara Tuhan sebaiknya di tempat yang pantas seperti masjid, gereja atau sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

8. Aksiologi - epistimologi

Yaitu etik estetikanya sebuah metode. Bagaimana cara/metode menyatakan sesuatu dengan sopan dan santun. Sebagai contohnya, sama-sama ingin meminta uang saku kepada orang tua, sama-sam ingin menyatakan perasaan,dll. Jika metode yang digunakan berbeda, maka hasilnya pun akan berbeda-beda pula. Jika etik dan estetika dalm menggunakan metode tidak diperhatikan, maka hasilnya akan kontraproduktif.

9. Aksiologi – aksiologi

Merupakan baik buruknya tentang baik buruk. Maknanya seperti contoh berikut misal, menyampaikan kebaikan dengan menggunakan cara yang baik. Sehingga aksiologinya aksiologi ini sangat penting jika kita mampu untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebab ini merupakan gambaran dari orang yang sadar terhadap ruang dan waktu.

Contoh lengkapnya adalah pada ritual Jawa, orang Jawa melambangkan kebaikan dengan ritual-ritual yang memiliki makna-makna, misalnya pada upacara adat pernikahan terdapat ritual-ritual sepertu :

ü Cangkir = nyancang pikir

ü Tebu = antebing kalbu, artinya dalam menjalin cinta ataupun hubungan suami istri haruslah dengan hati yang mantap, karena dengan hati yangmantap dapat mengalahkan rintangan yang ada.

ü Kacar kucur = dalam resepsi pernikahan melambangkan pemberian nafkah dari suami untuk istri, dll.

Sedangkan dalam pernikahan juga terdapat ontologinya, yaitu sebuah hakekat pernikahan adalah Ijab-Qobul. Sedangkan epistimologinya, setiap daerah memiliki adat yang berbeda-beda dalam melaksanakan upacara pernikahan.

Dari tiga pilar filsafat tersebut, kita juga dapat mengaitkannya dalam suatu perjalanan imajiner yang kita alami. Dimana, perjalanan imajiner yang kita alami dapat bersifat infinite regres. Seperti contohnya ketika kita bermimpi dan di dalam mimpi kita bermimpi lagi, dst. Sehingga mimpi itu sendiri dapat kita artikan sebagai pengalaman spiritual yang kita alami. Sehingga kita dapat mengaitkannya dengan ontologi dan epistimologi dari suatu perjalanan spiritual tersebut. Selain imajinernya berfikir, kita juga dapat memahami suatu angan-angan kita dari apa yang telah kita impi-impikan untuk dijadikan pedoman dalam menggapainya. Akan tetapi, menghayalkan suatu hal itu haruslah kita mampu untuk menyadarinya. Sebab untuk berfikit dan memikirkan sautu hal itu kita haruslah mempunyai kesadaran.

Sadar dapat dipecah menjadi dua yaitu sadar ke dalam dan sadar keluar. Dimana berkhayal merupakan bentuk sadar ke luar dari apa yang telah kita pikirkan. Dan batas dari pikiran adalah hati. Dimana, jikalau kita memikirkan sesuatu maka kita tidak akan mampu memikirkannya sedalam-dalamnya sampai tuntas dalam spiritualku. Sehingga akan memunculkan mitos-mitos belaka dari apa yang kita pikirkan tersebut jikalau kita tidak mampu untuk medalaminya dengan hati dan spiritual kita.

Dalam matematika, kebenaran akan diperoleh jika matematika itu terbebas dari ruang dan waktu. Sebagai contohnya, matematika akan benar jika masih ada di dalam pikiran, ketika diucapkan dan bahkan dituliskan matematika akan menjadi salah. Sebagai contohnya, ketika kita mengucapkan atau menuliskan 2 = 2. Hal ini jika tidak terbebas dari ruang dan waktu bernilai salah, sebab ada 2 yang pertama dan 2 yang kedua.

Bahasa yang merupakan suatu yang amat sangat penting dalam filsafat sebab kita berfikir filsafat melalui bahasa. Dimana bahasa yang paling tepat dalam bahasa yang hanya kita ajukan kepada Tuhan. Sedangkan dalam filsafat, bahasa yang digunakan merupakan bahasa Analog. Sehingga kita dapat mengartikan bahwa bahasa adalah rumahku sendiri, bahkan diriku ini adalah bahasa. Jika kita kaitkan dengan matematika, maka struktur bahasa dan struktur matematika itu merupakan bahasa. Sehingga matematika itu adalah bahasa. Sedangkan jika kita kaitkan dengan budaya Jawa, bahasa dan filsafat itu mempunyai hubungan yaitu Sastra Gending yang berhubungan dengan Subjek dan Predikat.

Sumber : http://www.scribd.com/doc/43326775/Ontologi-Epistemologi-Dan-Aksiologi-Ilmu

Wednesday, May 4, 2011

WARNA - WARNI DALAM FILSAFAT

Pada perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika Kamis, 28 April 2011, para mahasiswa yang mengikut perkuliahan diminta oleh Bpk Marsigit untuk membuat pertanyaan. Dan pertanyaan-pertanyaan yang terpilih, dijawab oleh Bpk Marsigit. Setelah dibacakan, ternyata pertanyaan dari kami para mahasiswa sangat beragam atau berwarna-warni. Di bawah ini adalah hasil rangkumannya :

Di dunia ini pasti ada kejadian yang selalu terjadi tiap detiknya, atau yang kita sebut sebagai fenomena. Dalam kajian filsafat, fenomena bisa bersifat berubah, tetap maupun kedua-keduanya. Karena berfikir filsafat adalah berdimensi, sesuai dengan ruang dan waktunya. Artinya untuk memandang sesuatu fenomena, kita harus mengkaji apa yang berubah, dan apa pula yang tetap. Tetapi jika kita hanya memandang suatu fenomena itu selalu bersifat tetap, maka dalam filsafat kita adalah pengikut Permenides yang menganggap segala sesuatu itu selalu tetap. Sedangkan jika kita menganggap fenomena selalu berubah, maka kita adalah pengikut Heraklitos.

Dalam berfikir filsafat, obyek kajiannya adalah apa yang ada dan yang mungkin ada, termasuk juga manusia sendiri adalah salah satunya. Keadaan yang sekarang ini terjadi, tidak lepas dari pengaruh orang-orang yang mempunyai peran penting dan dianggap berkuasa di dunia. Salah satunya adalah Presiden Amerika Serikat, Obama. Bapak Marsigit memandang Obama sebagai orang yang paling seksi di dunia pada saat ini, sebab saat ini Obama adalah orang yang paling berpengaruh dan menarik perhatian beerdasarkan kekuasaan dan potensinya.

Dalam filsafat terdapat istilah yang disebut comensurabelity. Kata ini memiliki makna mengukur dengan ukuran yang sama (adil), artinya meletakkan segala sesuatu sesuai dan adil. Contoh dalam kehidupan adalah jika kita mengajak balap motor dengan CC yang sama. Jadi incommensurable arinya tidak sama tidak sesuai dan konsep ini pertama kali ditemukan oleh Pytagoras yaitu dalam konsep skala bilangan dalam segitiga siku-siku , yaitu skala sisi siku-siku dapat dinyatakan dengan bilangan bulat sedangkan untuk sisi miringnya tidak dapat dinyatakan dengan bilangan bulat. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam suatu komplek perumahan ada tetangga yang membeli mobil baru dan kita juga ingin membeli mobil baru itu bukanlah commensurable.

Banyak filsuf yang pikiran-pikirannya sangat berpengaruh terhadap perkembangan filsafat sampai saat ini. Di Indonesia khususnya dalam pendidikan matematika, pikiran filsuf yang paling berpengaruh adalah pikiran dari Hilbert. Pikiran Hilbert berhasil membangun matematika formal yang modern dan menimbulkan struktur-struktur matematika. Perkembangan pengaruh Hilbert sangat pesat, kita sebagai mahasiswa di perguruan tinggi juga mengerjakan matematika Hilbert. Dalam pendidikan di sekolah, penerapan UN juga merupakan pengaruh pemikiran Hlbert, tetapi sebenarnya hal ini kurang cocok untuk diterapkan pada matematika sekolah.

Dalam elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit, ada salah satu yang berjudul “Tema Hantu di Kelas RSBI”. Jika kita mau menilai bagaimana tema hantu dikelas RSBI, maka hal tersebut tergantung pada level apa kita memikirkannya yaitu kapan dan dimana kita memikirkannya. Jika kita berfikir baik, maka kebaikan lah yang akan terjadi. Jika kita berpikir buruk maka keburukan lah yang akan terjadi. Jadi Bapak Marsigit berpendapat bahwa hal yang dilakukan siswa-siswa dikelas yang membuat tema hantu dikelasnya merupakan suatu musibah. Dari kata hantu saja sudah berkonotasi negative bagaimana selanjutnya dengan kelakuan para siswa jika dari hal yang kecil saja mereka sudah berbaur dengan hal-hal berbau negative. Ada salah satu kalimat yang diungkapkan olah Bapak Marsigit yaitu “pikiranmu adalah doamu”. Jadi apa yang kita lakukan tentu saja kita pikirkan, apa yang kita pikirkan berpengaruh juga dengan apa yang kita lakukan, bearti pikiranku adalah doaku, kelakuanku adalah doaku.

Obyek kajian filsafat terbagi menjadi dua bagian, yaitu obyek formal dan obyek material. Objek formal merupakan wadah (metode) sedangkan objek material merupakan isi. Dalam pendidikan matematika objek formalnya adalah metode, seperti research, problem solving, dll. Sedangkan objek materialnya adalah content yaitu isi atau materi matematika itu sendiri. Dalam filsafat pendidikan matematika objek formalnya adalah filsafat itu sendiri sedangkan objek materialnya adalah pendidikan matematika. Berbicara tentang wadah dan isi, wadah merupakan tempatnya isi sedangkan isi adalah yang menempati wadah. Namun sebenarnya wadah itu bisa sekaligus menjadi isi, atau sebaliknya isi bisa sekaligus menjadi wadah, tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Dalam berfikir filsafat, kita harus berfikir seluas-luasnya (ekstensif) dan sedalam-dalamnya (intensif). Akibat dari cara berfikir intensif dan ekstensif adalah kejadian menterjemahkan dan diterjemahkan. Jadi untuk menjalani kehidupan, harus ada dua hal yang saling melengkapi yaitu teori dan praktek. Setiap teori pasti membutuhkan referensi, dalam hal ini referensi merupakan tesis kita, sedangkan praktek di dasarkan pada pengalaman kita yang merupakan antitesis kita. Jadi referensi tidaklah membatasi pikiran kita, kita tetap bebas beerfikir tetapi harus mengacu pada ferensi yang ada, agar pikiran kita tidak menyimpang.

Yang dibicarakan dalam filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Jika kita ingin mengetahui mana yang lebih dulu antara yang ada dan yang mungkin ada, itu tergantung dari sudut mana kita memandanganya. Ada bisa mendahului yang mungkin ada begitu juga sebaliknya yang mungkin ada bisa mendahului ada. Misalkan saja, ada seseorang sedang berdiri di papan tulis, kemudian aku sedang duduk menyaksikan dirinya. Sekarang kita melihat dari sudut pandangku, aku hanya menyaksikan orang itu menulis, dan aku merasakan bahwa ada goresan di papan tulis dan tulisan itu ada, maka aku mengatakan bahwa ada itu lebih dahulu. Tapi coba kita lihat dari sudut pandang orang yang akan menulis dipapan tulis tersebut. Orang tersebut memikirkan dahulu apa yang akan dia tulis, jadi dari sudut pandang orang itu dapat dikatakan bahwa yang mungkin ada itu lebih dahulu.

Dalam pross berpikir kita kaitkan dengan terang, terang kalau kita ekstensikan maka akan terang dalam matematika. Ketika kita mengatakan bahwa pikiran kita sudah terang, maka sebenarnya pikiran kita itu masih gelap. Terang dalam pikiran berarti kita berhasil mengambil keputusan secara tepat, ketika mengambilan keputusan kita harus mengetahui ontologi berfikir. Setingginya terang dalam hati ketika tidak ada jarak antara kita dengan Sang Pencipta. Ketika apa yang dipikirkan menjada kenyataan, itu dikarenakan ada intuisi dalam diri kita, intuisi adalah kenyataan, sehingga intuisi menjadi pondasi ketika kita berpikir. Berfikirlah positif agar jika yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan, maka akan menjadi kenyataan yang baik sehingga tidak akan merugikan kita dan orang di sekitar kita, pikiran positif akan mendorong kita untuk memperoleh hal yang positif pula.

Imajiner sama juga dengan membayangkan, dalam hidup tidak mungkin kita terbebas dari imajiner dan bayangan. Apa yang terjadi dengan kita, mungkin sudah kita bayangkan sebelumnya. Apa yang akan kita lakukan, pasti sudah ada di benak kita (imajinasi kita) sebelumnya. Dan apa yang kita bayangkan itu pasti kita lakukan dalam posisi sadar. Jadi kita tidak terlepas dari imajiner kecuali pada saat kita tidur.

Bapak Marsigit juga menuliskan sebuah elegi yang berjudul Surat Terbuka Untuk Presiden. Isi dari surat tersebut adalah suatu pemikiran Bapak Marsigit dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Dan di dalamnya terdapat beberapa kritikan tentang sistem pendidikan di Indonesia, salah satunya tentang UN. Ujian Nasional adalah salah satu ketidak konsistenan kebijakan pemerintah yang perlu diperbaharui dan ditinjau kembali pelaksanaannya.

Ketika kita mengenal seseorang pasti kita akan mengenal karakternya juga, setiap orang tidak mungkin memiliki karakter yang sama. Karakter pencopet pasti berbeda dengan orang yang dicopet, pencopet cenderung bersifat keras, sedangkan yang dicopet memiliki sifat rasa takut dan pasrah saja. Pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, dengan pendidikan karakter maka karakter siswa akan terbentuk, potensi pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia yang seutuhnya yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam filsafat juga terdapat istilah hermenitika. Hermenetika itu berkaitan dengan menterjemahkan dan diterjemahkan. Apa yang kita lihat di dunia ini merupakan suatu objek yang ditangkap oleh indera kita, maka melewati indera kita objek tersebut akan ditangkap kemudian akan diterjemahkan oleh pikiran kita. Jadi pikiran kita menterjemahkan apa yang ada dan yang mungkin ada dala dimensi ruang dan waktu ini. Maka separuh dunia, yaitu yang ada didalam pikiran kita akan menterjemahkan separuh dunia yang lain, yaitu dunia nyata.

Itulah sedikit gambaran tentang warna-warni dalam filsafat yang dapat terjadi karena obyek filsafat yang sangat luas, yaitu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Semoga bermanfaat. Amin.