Filsafat adalah ilmu yang mempelajari tentang segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini, dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari semua aspek dalam kehidupan. Jadi obyek kajian filsafat sangatlah luas. Filsafat merentang pada dimensi yang bertingkat dari bumi menuju langit, yaitu dari dimensi material, formal, normatif, dan yang terakhir adalah spititual. Dalam kajian filsafat, akan banyak muncul pertanyaan yang tidak semuanya membutuhkan atau perlu untuk dijawab. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kita sebagai manusia, kadang untuk menjawab pertanyaan pikiran kita bisa menggapainya tetapi spiritual kita akan terkikis. Ini adalah hal yang tidak boleh terjadi, sebab landasan paling dasar dari diri kita adalah spititual kita.
Tiga pilar utama dalam filsafat mempunyai sumbu-sumbu sebagai unsur pentingnya. Sumbu-sumbu dari ontologi (hakekat) adalah berfikir intensif dan ekstensif, sedangkan sumbu dari epistimologi adalah foundation dan antifoundation, benar dan salah. Sumbu dari aksiologi adalah estik dan estetika, baik dan buruk sampai pada transenden spiritual. Ada juga sumbu dalam ruang, yaitu jauh dekat, tinggi rendah, dll. Sedangkan sumbu dalam waktu adalah yang lalu, sekarang, dan yang akan datang. Belajar filsafat adalah antara fatal dan vital juga antara mitos dan logos yang berjalan beriringan.
Banyak orang yang bertanya apakah mitos itu sesuatu yang bermanfaat? Jawabannya adalah ya, tetapi dengan syarat mitos tersebut harus berjalan sesuai dengan dimensinya. Sebagai contohnya adalah pada anak kecil sebagian besar pengetahuannya adalah mitos, karena anak kecil belum bisa bertanya “mengapa”. Mitos juga penting dalam pendidikan anak, tetapi memang harus sesuai dengan dimensinya. Contoh lainnya adalah kebiasaan masyarakat seperti sedekah, dll. Semua itu ada unsur kehidupannya, karena bagi masyarakat tertentu pengetahuan cukup dimitoskan seperti halnya pengetahuan anak kecil, karena jika tidak maka akan menjadi tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.
Jika kita bertindak sebagai penentu atau subyek bagi orang lain maka semua itu harus berjalan harmoni atau selaras seperti gending jawa. Selaras berarti di dalam diriku ada dirimu, di dalam dirimu ada diriku. Ukuran orang yang satu dengan orang yang lain berbeda-beda sesuai dengan dimensinya. Sifat orang yang satu dengan yang lain pun berbeda-beda pula, sifat merupakan aspek psikologi dari manusia. Sedangkan kegagalan maupun kesuksesan adalah pengada. Filsafat dunia barat dan timur berbeda, yaitu filsafat barat bersifat mencari sedangkan filsafat timur bersifat memberi. Sebagai contoh: seseorang yang berumur lebih dari 40 tahun masih belajar/ kuliah. Jika dipandang dari filsafat barat maka orang tersebut dikatakan masih mencari ilmu pengetahuan, tetapi jika dipandang dari filsafat timur maka sudah seharusnya orang tersebut memberi ilmu pengetahuan bukan malah terus belajar.
Terdapat 4 dimensi komunikasi dalam pendidikan karakter di Indonesia, meliputi komunikasi material, komunikasi formal, komunikasi normatif dan komunikasi spiritual. Dalam pengembangan karakter pada pendidikan matematika juga berlaku empat komunikasi tersebut, keberhasilan pendidikan karakter ditentukan oleh sejauh mana guru dapat berkomunikasi melalui empat hal di atas dengan siswa.
· Komunikasi material matematika
Komunikasi material matematika didominasi oleh sifat horisontal arah vitalitasnya. Dilihat dari segi keterlibatannya, jumlah satuan potensi yang terlibat adalah bersifat minimal jika dibandingkan dengan komunikasi dari dimensi yang lainnya. Maka, sebagian orang dapat memperoleh kesadaran bahwa komunikasi material matematika adalah komunikasi dengan dimensi paling rendah.
· Komunikasi formal matematika
Komunikasi formal matematika didominasi oleh sifat-sifat korelasional ke luar atau ke dalam dari vitalitas potensinya. Korelasi ke luar atau ke dalam memunyai makna perbedaan antara sifat-sifat yang di luar dan sifat-sifat yang di dalam. Korelasi antara perbedaan sifat itulah yang menentukan sifat dari subjek atau objek komunikasinya. Implikasi dari perbedaan sifat-sifat subjek atau sifat-sifat objek memberikan penguatan adanya perbedaan sifat penunjukan.
· Komunikasi normatif matematika
Komunikasi normatif matematika ditandai dengan meluruhnya sifat-sifat penunjukan korelasionalitas penunjukannya pada diri subjek dan objeknya. Namun demikian, komunikasi dikatakan memunyai dimensi yang lebih tinggi dikarenakan keterlibatan satuan-satuan potensinya lebih banyak, lebih luas, dan lebih kompleks. Meluruhnya sifat penunjukan korelasional horisontal bukan disebabkan oleh lemahnya potensi dan vitalitas komunikasi, tetapi semata-mata dikarenakan luasnya jangkauan dan keterlibatan satuan-satuan potensi dan vitalitas baik pada diri subjek maupun objek.
· Komunikasi spiritual matematika
Sifat-sifat korelasional keluar dari konsep matematika menunjukkan keadaan semakin jelas dan tegasnya apakah dalam bentuk ke luar ke atas atau ke luar ke bawah. Korelasionalitas potensi dan vitalitas matematika ke atas akan mentransformasikan bentuk komunikasi ke dimensi yang lebih atas yaitu komunikasi spiritual matematika. Di pihak lain, korelasional potensi dan vitalitas ke bawah akan mentransformasikan bentuk komunikasi matematika ke dimensi yang lebih bawah, yaitu komunikasi formal matematika atau komunikasi material matematika.
Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari tentang segala aturan dan hukum-hukum. Anti filsafat adalah filsafat itu sendiri. Dalam filsafat dikenal istilah transformasi dunia. Dua hal yang dibutuhkan untuk mentransformasikan dunia adalah ruang dan waktu, karena kita tidak mungkin lepas dari ruang dan waktu. Secara subjektif, definisi filsafat yaitu diriku atau pikiranku. Pikiran adalah penghubung antara yang ada dan yang mungkin ada. Seperti Immanuel Kant, yang mengungkapkan bahwa dunia adalah pikiranku. Jika kau ingin mengetahui dunia maka tengoklah dalam pikiranmu. Pikiran merupakan separuh dunia, dan separuh dunia yang lain adalah pengalaman. Untuk menghubungkan kedua hal tersebut, kita membutuhkan abstraksi. Abstraksi adalah unsur dasar dari reduksi. Sifat dasar dari reduksi adalah tajam dan kejam.
Ada seorang filsuf yang ternyata tidak mampu mengetahui apapun, dia adalah Socrates. Karena Socrates adalah seorang filsuf yang mengungkapkan bahwa filsafat adalah pertanyaan. Seorang filsuf tidak akan pernah bisa lari dari filsafat karena filsuf adalah filsafat. Maka mempelajari filsafat berarti mempelajari pikiran para filsuf. Tujuan seseorang berfilsafat adalah membangun dunia. Ada 2 unsur untuk membangun dunia yaitu unsur aku ditambah aku atau bukan aku (hukum identitas dan hukum kontradiksi). Dalam mempelajari filsafat juga akan banyak muncul sifat-sifat tertentu, seperti arogansi filsafat, karena dalam berfilsafat kita tidak menyebutkan gelar yang dipunyai oleh para filsuf. Kelancangan filsafat, karena filsafat lancang terhadap subyek. Kesombongan dan juga kemarahan filsafat, karena kita selalu berfilsafat.
Sumber : http://powermathematics.blogspot.com/2011/04/artikel-populer-pendidikan-karakter.html