Wednesday, May 11, 2011

PENGARUH TIGA PILAR UTAMA FILSAFAT DALAM KEHIDUPAN

Dalam filsafat terdapat tiga pilar atau aspek yang utama, yaitu:

· Ontologi (hakekat)

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan/hakekat sesuatu yang bersifat konkret/ada. Jadi obyek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metafisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi merupakan sebuah jawaban atas pertanyaan mengenai hakikat kenyataan. Kita harus memahami dengan baik masalah-masalah ontologi agar dapat memahami dengan baik masalah dunia, tempat kita tinggal. Ontology berkaitan dengan pertanyaan “apa”.

· Epistimologi (metode)

Epistomologi adalah pengetahuan sistematis yang membahas tentang terjadinnya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, metode atau cara memperoleh pengetahuan, validitas dan kebenaran pengetahuan (Ilmiah). Epistemologi membahas tentang bagaimana metode seorang manusia mendapatkan pengetahuan. Pentingnya pembahasan ini berkaitan dengan apakah suatu ilmu ia diperoleh dengan cara yang bisa didapatkan orang lain atau tidak. Jika tidak dapat diketahui orang lain maka pengetahuannya tidak dapat dipelajari oleh orang lain. Epistimologi berkaitan dengan pertanyaan “bagaimana/mengapa”.

· Aksiologi (untuk apa)

Aksiologi membahas tentang nilai etik dan estetika suatu pengetahuan. Nilai dari sesuatu tergantung ada tujuannya. Maka pembahasan tentang nilai pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari tujuannya. Masing-masing manusia memang mempunyai tujuan sendiri. Namun pasti ada kesamaan tujuan secara obyektif bagi semua manusia. Begitu juga dengan pengetahuan. Semua pengetahuan memiliki tujuan obyektif. Aksiologi berkaitan dengan pertanyaan “untuk apa”, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan?

Ketiga pilar tersebut bersifat saling berkaitan satu sama lain, dan juga berkaitan erat dengan perjalanan kehidupan kita. Di bawah ini akan dijelaskan hubungan antara ontology, epistimologi dan aksiologi.

1. Ontologi - ontologi

Hal ini berarti hakekatnya hakekat. Tetapi dalam kenyataannya manusia tidak bisa menjelaskan hakekat dari hakekat itu sendiri, karena kata-kataku tidak cukup menjelaskan hakekat. Hanya Allah SWT yang tahu hakekat atas hakekat, sebab hal tersebut merupakan rahasia yang hanya diketahui makna dan maksudnya oleh Allah SWT.

2. Ontologi - epistimologi

Adalah hakekat dari epistimologi, artinya hakekat dari metode/cara. Epistimologi itu sendiri adalah cara atau metode, sedangkan dari ontologi ke epistimologi itu maksudnya hakekat epistimologi atau hakekat dari cara dan metode. Dalam buku yang berjudul “Kebenaran Metode” hermenitika dogamen. Buku ini berusaha secara ontologi mengungkap hakekat metode. Sedangkan kebenaran metode itu benar dan salah dalam epistimologi.

3. Ontologi - aksiologi

Merupakan hakekat dari baik buruk. Dalam filsafat, segala sesuatunya merentang (berdimensi), antara satu orang dengan yang lain berbeda, dalam waktu yang berbeda segala sesuatu berbeda pula. Misalnya saja, keberadaan Osama bin Laden, baik buruknya tergantung dari mana orang memandang dan siapa pula yang memandangnya.

4. Epistimologi - ontologi

Yaitu metode untuk menggapai hakekat. Bagaimana cara kita menggapai hakekat, bagaimana pengetahuan kita mengungkap hakekat tentang sesuatu. Dalam filsafat metode untuk menggapai hakekat adalah olah pikir, sedangkan dalam spiritual adalah olah hati.

5. Epistimologi - epistimologi

Merupakan metode untuk menggapai metode. Dimana kita akan mampu untuk mengetahui benar salahnya segala metode yang kita lakukan. Sehingga kita akhirnya mampu dan dapat membenahi segala hal yang terkait dengan metode yang kurang sesuai. Kebenaran metode menghasilkan hermenitika modern.

6. Epistimologi - aksiologi

Metode untuk mengungkap baik buruk. Bagaiamana cara kita menemukan baik-buruk segala sesuatu yang timbul dalam kehidupan ini. Misalnya kita berfikir untuk meengungkap kembali mengenai tewasnya Osama. Osama bin Laden merupakan kritik terhadap orang yang berkuasa.

7. Aksiologi - ontologi

Adalah etik estetika dalam menggapai hakekat. Baik-buruknya hakekat, tata etik dan estetika berfikir tentang hakekat. Misal ketika kita berbicara tentang Tuhan jangan di tengah pasar, di kereta api, kurang sopan jika membicarakan Tuhan di pasar. Berbicara Tuhan sebaiknya di tempat yang pantas seperti masjid, gereja atau sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

8. Aksiologi - epistimologi

Yaitu etik estetikanya sebuah metode. Bagaimana cara/metode menyatakan sesuatu dengan sopan dan santun. Sebagai contohnya, sama-sama ingin meminta uang saku kepada orang tua, sama-sam ingin menyatakan perasaan,dll. Jika metode yang digunakan berbeda, maka hasilnya pun akan berbeda-beda pula. Jika etik dan estetika dalm menggunakan metode tidak diperhatikan, maka hasilnya akan kontraproduktif.

9. Aksiologi – aksiologi

Merupakan baik buruknya tentang baik buruk. Maknanya seperti contoh berikut misal, menyampaikan kebaikan dengan menggunakan cara yang baik. Sehingga aksiologinya aksiologi ini sangat penting jika kita mampu untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari sebab ini merupakan gambaran dari orang yang sadar terhadap ruang dan waktu.

Contoh lengkapnya adalah pada ritual Jawa, orang Jawa melambangkan kebaikan dengan ritual-ritual yang memiliki makna-makna, misalnya pada upacara adat pernikahan terdapat ritual-ritual sepertu :

ü Cangkir = nyancang pikir

ü Tebu = antebing kalbu, artinya dalam menjalin cinta ataupun hubungan suami istri haruslah dengan hati yang mantap, karena dengan hati yangmantap dapat mengalahkan rintangan yang ada.

ü Kacar kucur = dalam resepsi pernikahan melambangkan pemberian nafkah dari suami untuk istri, dll.

Sedangkan dalam pernikahan juga terdapat ontologinya, yaitu sebuah hakekat pernikahan adalah Ijab-Qobul. Sedangkan epistimologinya, setiap daerah memiliki adat yang berbeda-beda dalam melaksanakan upacara pernikahan.

Dari tiga pilar filsafat tersebut, kita juga dapat mengaitkannya dalam suatu perjalanan imajiner yang kita alami. Dimana, perjalanan imajiner yang kita alami dapat bersifat infinite regres. Seperti contohnya ketika kita bermimpi dan di dalam mimpi kita bermimpi lagi, dst. Sehingga mimpi itu sendiri dapat kita artikan sebagai pengalaman spiritual yang kita alami. Sehingga kita dapat mengaitkannya dengan ontologi dan epistimologi dari suatu perjalanan spiritual tersebut. Selain imajinernya berfikir, kita juga dapat memahami suatu angan-angan kita dari apa yang telah kita impi-impikan untuk dijadikan pedoman dalam menggapainya. Akan tetapi, menghayalkan suatu hal itu haruslah kita mampu untuk menyadarinya. Sebab untuk berfikit dan memikirkan sautu hal itu kita haruslah mempunyai kesadaran.

Sadar dapat dipecah menjadi dua yaitu sadar ke dalam dan sadar keluar. Dimana berkhayal merupakan bentuk sadar ke luar dari apa yang telah kita pikirkan. Dan batas dari pikiran adalah hati. Dimana, jikalau kita memikirkan sesuatu maka kita tidak akan mampu memikirkannya sedalam-dalamnya sampai tuntas dalam spiritualku. Sehingga akan memunculkan mitos-mitos belaka dari apa yang kita pikirkan tersebut jikalau kita tidak mampu untuk medalaminya dengan hati dan spiritual kita.

Dalam matematika, kebenaran akan diperoleh jika matematika itu terbebas dari ruang dan waktu. Sebagai contohnya, matematika akan benar jika masih ada di dalam pikiran, ketika diucapkan dan bahkan dituliskan matematika akan menjadi salah. Sebagai contohnya, ketika kita mengucapkan atau menuliskan 2 = 2. Hal ini jika tidak terbebas dari ruang dan waktu bernilai salah, sebab ada 2 yang pertama dan 2 yang kedua.

Bahasa yang merupakan suatu yang amat sangat penting dalam filsafat sebab kita berfikir filsafat melalui bahasa. Dimana bahasa yang paling tepat dalam bahasa yang hanya kita ajukan kepada Tuhan. Sedangkan dalam filsafat, bahasa yang digunakan merupakan bahasa Analog. Sehingga kita dapat mengartikan bahwa bahasa adalah rumahku sendiri, bahkan diriku ini adalah bahasa. Jika kita kaitkan dengan matematika, maka struktur bahasa dan struktur matematika itu merupakan bahasa. Sehingga matematika itu adalah bahasa. Sedangkan jika kita kaitkan dengan budaya Jawa, bahasa dan filsafat itu mempunyai hubungan yaitu Sastra Gending yang berhubungan dengan Subjek dan Predikat.

Sumber : http://www.scribd.com/doc/43326775/Ontologi-Epistemologi-Dan-Aksiologi-Ilmu

No comments:

Post a Comment