Wednesday, May 4, 2011

WARNA - WARNI DALAM FILSAFAT

Pada perkuliahan Filsafat Pendidikan Matematika Kamis, 28 April 2011, para mahasiswa yang mengikut perkuliahan diminta oleh Bpk Marsigit untuk membuat pertanyaan. Dan pertanyaan-pertanyaan yang terpilih, dijawab oleh Bpk Marsigit. Setelah dibacakan, ternyata pertanyaan dari kami para mahasiswa sangat beragam atau berwarna-warni. Di bawah ini adalah hasil rangkumannya :

Di dunia ini pasti ada kejadian yang selalu terjadi tiap detiknya, atau yang kita sebut sebagai fenomena. Dalam kajian filsafat, fenomena bisa bersifat berubah, tetap maupun kedua-keduanya. Karena berfikir filsafat adalah berdimensi, sesuai dengan ruang dan waktunya. Artinya untuk memandang sesuatu fenomena, kita harus mengkaji apa yang berubah, dan apa pula yang tetap. Tetapi jika kita hanya memandang suatu fenomena itu selalu bersifat tetap, maka dalam filsafat kita adalah pengikut Permenides yang menganggap segala sesuatu itu selalu tetap. Sedangkan jika kita menganggap fenomena selalu berubah, maka kita adalah pengikut Heraklitos.

Dalam berfikir filsafat, obyek kajiannya adalah apa yang ada dan yang mungkin ada, termasuk juga manusia sendiri adalah salah satunya. Keadaan yang sekarang ini terjadi, tidak lepas dari pengaruh orang-orang yang mempunyai peran penting dan dianggap berkuasa di dunia. Salah satunya adalah Presiden Amerika Serikat, Obama. Bapak Marsigit memandang Obama sebagai orang yang paling seksi di dunia pada saat ini, sebab saat ini Obama adalah orang yang paling berpengaruh dan menarik perhatian beerdasarkan kekuasaan dan potensinya.

Dalam filsafat terdapat istilah yang disebut comensurabelity. Kata ini memiliki makna mengukur dengan ukuran yang sama (adil), artinya meletakkan segala sesuatu sesuai dan adil. Contoh dalam kehidupan adalah jika kita mengajak balap motor dengan CC yang sama. Jadi incommensurable arinya tidak sama tidak sesuai dan konsep ini pertama kali ditemukan oleh Pytagoras yaitu dalam konsep skala bilangan dalam segitiga siku-siku , yaitu skala sisi siku-siku dapat dinyatakan dengan bilangan bulat sedangkan untuk sisi miringnya tidak dapat dinyatakan dengan bilangan bulat. Dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam suatu komplek perumahan ada tetangga yang membeli mobil baru dan kita juga ingin membeli mobil baru itu bukanlah commensurable.

Banyak filsuf yang pikiran-pikirannya sangat berpengaruh terhadap perkembangan filsafat sampai saat ini. Di Indonesia khususnya dalam pendidikan matematika, pikiran filsuf yang paling berpengaruh adalah pikiran dari Hilbert. Pikiran Hilbert berhasil membangun matematika formal yang modern dan menimbulkan struktur-struktur matematika. Perkembangan pengaruh Hilbert sangat pesat, kita sebagai mahasiswa di perguruan tinggi juga mengerjakan matematika Hilbert. Dalam pendidikan di sekolah, penerapan UN juga merupakan pengaruh pemikiran Hlbert, tetapi sebenarnya hal ini kurang cocok untuk diterapkan pada matematika sekolah.

Dalam elegi yang ditulis oleh Bapak Marsigit, ada salah satu yang berjudul “Tema Hantu di Kelas RSBI”. Jika kita mau menilai bagaimana tema hantu dikelas RSBI, maka hal tersebut tergantung pada level apa kita memikirkannya yaitu kapan dan dimana kita memikirkannya. Jika kita berfikir baik, maka kebaikan lah yang akan terjadi. Jika kita berpikir buruk maka keburukan lah yang akan terjadi. Jadi Bapak Marsigit berpendapat bahwa hal yang dilakukan siswa-siswa dikelas yang membuat tema hantu dikelasnya merupakan suatu musibah. Dari kata hantu saja sudah berkonotasi negative bagaimana selanjutnya dengan kelakuan para siswa jika dari hal yang kecil saja mereka sudah berbaur dengan hal-hal berbau negative. Ada salah satu kalimat yang diungkapkan olah Bapak Marsigit yaitu “pikiranmu adalah doamu”. Jadi apa yang kita lakukan tentu saja kita pikirkan, apa yang kita pikirkan berpengaruh juga dengan apa yang kita lakukan, bearti pikiranku adalah doaku, kelakuanku adalah doaku.

Obyek kajian filsafat terbagi menjadi dua bagian, yaitu obyek formal dan obyek material. Objek formal merupakan wadah (metode) sedangkan objek material merupakan isi. Dalam pendidikan matematika objek formalnya adalah metode, seperti research, problem solving, dll. Sedangkan objek materialnya adalah content yaitu isi atau materi matematika itu sendiri. Dalam filsafat pendidikan matematika objek formalnya adalah filsafat itu sendiri sedangkan objek materialnya adalah pendidikan matematika. Berbicara tentang wadah dan isi, wadah merupakan tempatnya isi sedangkan isi adalah yang menempati wadah. Namun sebenarnya wadah itu bisa sekaligus menjadi isi, atau sebaliknya isi bisa sekaligus menjadi wadah, tergantung dari sudut mana kita memandangnya.

Dalam berfikir filsafat, kita harus berfikir seluas-luasnya (ekstensif) dan sedalam-dalamnya (intensif). Akibat dari cara berfikir intensif dan ekstensif adalah kejadian menterjemahkan dan diterjemahkan. Jadi untuk menjalani kehidupan, harus ada dua hal yang saling melengkapi yaitu teori dan praktek. Setiap teori pasti membutuhkan referensi, dalam hal ini referensi merupakan tesis kita, sedangkan praktek di dasarkan pada pengalaman kita yang merupakan antitesis kita. Jadi referensi tidaklah membatasi pikiran kita, kita tetap bebas beerfikir tetapi harus mengacu pada ferensi yang ada, agar pikiran kita tidak menyimpang.

Yang dibicarakan dalam filsafat adalah semua yang ada dan yang mungkin ada. Jika kita ingin mengetahui mana yang lebih dulu antara yang ada dan yang mungkin ada, itu tergantung dari sudut mana kita memandanganya. Ada bisa mendahului yang mungkin ada begitu juga sebaliknya yang mungkin ada bisa mendahului ada. Misalkan saja, ada seseorang sedang berdiri di papan tulis, kemudian aku sedang duduk menyaksikan dirinya. Sekarang kita melihat dari sudut pandangku, aku hanya menyaksikan orang itu menulis, dan aku merasakan bahwa ada goresan di papan tulis dan tulisan itu ada, maka aku mengatakan bahwa ada itu lebih dahulu. Tapi coba kita lihat dari sudut pandang orang yang akan menulis dipapan tulis tersebut. Orang tersebut memikirkan dahulu apa yang akan dia tulis, jadi dari sudut pandang orang itu dapat dikatakan bahwa yang mungkin ada itu lebih dahulu.

Dalam pross berpikir kita kaitkan dengan terang, terang kalau kita ekstensikan maka akan terang dalam matematika. Ketika kita mengatakan bahwa pikiran kita sudah terang, maka sebenarnya pikiran kita itu masih gelap. Terang dalam pikiran berarti kita berhasil mengambil keputusan secara tepat, ketika mengambilan keputusan kita harus mengetahui ontologi berfikir. Setingginya terang dalam hati ketika tidak ada jarak antara kita dengan Sang Pencipta. Ketika apa yang dipikirkan menjada kenyataan, itu dikarenakan ada intuisi dalam diri kita, intuisi adalah kenyataan, sehingga intuisi menjadi pondasi ketika kita berpikir. Berfikirlah positif agar jika yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan, maka akan menjadi kenyataan yang baik sehingga tidak akan merugikan kita dan orang di sekitar kita, pikiran positif akan mendorong kita untuk memperoleh hal yang positif pula.

Imajiner sama juga dengan membayangkan, dalam hidup tidak mungkin kita terbebas dari imajiner dan bayangan. Apa yang terjadi dengan kita, mungkin sudah kita bayangkan sebelumnya. Apa yang akan kita lakukan, pasti sudah ada di benak kita (imajinasi kita) sebelumnya. Dan apa yang kita bayangkan itu pasti kita lakukan dalam posisi sadar. Jadi kita tidak terlepas dari imajiner kecuali pada saat kita tidur.

Bapak Marsigit juga menuliskan sebuah elegi yang berjudul Surat Terbuka Untuk Presiden. Isi dari surat tersebut adalah suatu pemikiran Bapak Marsigit dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Dan di dalamnya terdapat beberapa kritikan tentang sistem pendidikan di Indonesia, salah satunya tentang UN. Ujian Nasional adalah salah satu ketidak konsistenan kebijakan pemerintah yang perlu diperbaharui dan ditinjau kembali pelaksanaannya.

Ketika kita mengenal seseorang pasti kita akan mengenal karakternya juga, setiap orang tidak mungkin memiliki karakter yang sama. Karakter pencopet pasti berbeda dengan orang yang dicopet, pencopet cenderung bersifat keras, sedangkan yang dicopet memiliki sifat rasa takut dan pasrah saja. Pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, dengan pendidikan karakter maka karakter siswa akan terbentuk, potensi pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk manusia yang seutuhnya yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam filsafat juga terdapat istilah hermenitika. Hermenetika itu berkaitan dengan menterjemahkan dan diterjemahkan. Apa yang kita lihat di dunia ini merupakan suatu objek yang ditangkap oleh indera kita, maka melewati indera kita objek tersebut akan ditangkap kemudian akan diterjemahkan oleh pikiran kita. Jadi pikiran kita menterjemahkan apa yang ada dan yang mungkin ada dala dimensi ruang dan waktu ini. Maka separuh dunia, yaitu yang ada didalam pikiran kita akan menterjemahkan separuh dunia yang lain, yaitu dunia nyata.

Itulah sedikit gambaran tentang warna-warni dalam filsafat yang dapat terjadi karena obyek filsafat yang sangat luas, yaitu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Semoga bermanfaat. Amin.

1 comment: